Sensor Pada Fotografi

Membicarakan sensor di sini bukanlah tentang perangkat dalam kamera yang berfungsi merekam gambar, melainkan pengawasan dan pembatasan pada karya fotografi. Sensor terjadi sejak masa lalu dan berevolusi hingga kini.

Ketimbang sibuk mengutuk sejarah, kita bisa bersyukur bahwa kebebasan berekspresi di Tanah Air melalui medium fotografi lebih baik ketimbang negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Apalagi dibandingkan dengan negara komunis seperti Vietnam atau negara Islam seperti Mesir dan Iran. Kebebasan dalam fotografi linier dengan kebebasan jurnalistik.

Saat ini kebebasan berekspresi dalam fotografi kita mungkin bisa dibandingkan dengan negeri yang mengklaim demokratis seperti Amerika Serikat. Meski sejarah fotografi di Amerika bukan bebas sensor. Misalnya, pada foto penyerangan di Pearl Harbor pada 7 Desember 1941. Militer AS melarang foto-foto semacam ini untuk dimuat majalah LIFE. Alasan militer waktu itu adalah foto seperti ini bisa merusak moral warga dan tentara. Foto ini baru dimuat setahun kemudian, yang justru ketika dimuat menambah semangat juang tentara. Berbalik dengan kekhawatiran militer.

Penyerangan Pearl Harbor. Foto: arsip LIFE

Penyerangan Pearl Harbor. Foto: arsip LIFE

Ketika Indonesia berada dalam rezim diktaktor, penguasa cenderung membungkam kritik dan menyembunyikan fakta agar tidak memunculkan penggambaran buruk pada pemerintah atau memunculkan sentimen negatif. Misalnya, kenapa foto-foto tahun ‘65 lebih sedikit dibanding foto-foto kemerdekaan ‘45, padahal fotografi semakin maju dan kamera semakin banyak?

Tapi sensor tidak hanya terjadi karena tekanan dari luar si fotografer, sensor juga terjadi dari dalam. Ketika fotografer sengaja mengeliminasi tampilan kekerasan dalam fotonya (misalnya dalam peristiwa konflik), maka si fotografer bisa dibilang melakukan self-censorship atau sensor diri sendiri. Dalam “Political Studies” oleh Philip Cook dan Conrad Heilmann, self-censorship bisa dipahami sebagai tekanan dari diri sendiri. Yaitu ketika seseorang menginternalisasi aspek sensor oleh publik dalam dirinya, kemudian melakukan sensor sendiri.

Ada juga self-censorship oleh proxy. Misalnya fotografer adalah bagian dari lembaga atau suatu asosiasi, maka ia akan merefleksikan norma yang dianut lembaga atau asosiasinya tersebut pada dirinya sebagai bagian dari partisipasi. Pada self-censorship oleh proxy, seseorang menggunakan cara pandang dari institusi di mana ia berkomitmen. Misalnya, jurnalis foto koran “A” akan memilih foto-foto yang sesuai selera koran A untuk dimuat, begitu juga jurnalis koran “B” yang akan melakukan seleksi foto berdasarkan gaya koran tempat ia bekerja.

Sensor fotografi adalah pembatasan sebelum, selama, dan sesudah pemotretan. Banyak orang beranggapan sensor hanya tentang apa yang boleh difoto dan foto apa yang boleh dipamerkan atau disiarkan kepada publik.

Kini, seperti disebutkan di awal, sensor telah berevolusi. Tekanan pada fotografer bisa berupa pasar, pemilik modal di mana fotografer bekerja, kelompok garis keras yang memaksakan keyakinan tertentu, serta kepentingan-kepentingan lain.

Untuk melawan sensor ini perlu keberanian dan kebijaksanaan. Keberanian selalu memiliki risiko, dan kebijaksanaan menuntut kematangan. Kebijaksanaan yang dimaksud adalah mampu menimbang dampak baik dan buruk bila suatu foto disiarkan untuk publik.

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in Jurnalistik and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s