Penulisan Caption Foto (Bagian 1)

Dalam foto jurnalistik, suatu foto bagus bisa tidak berarti apa-apa tanpa caption. Karena keberadaan caption sama pentingnya dengan gambar itu sendiri. Caption membuat pembaca tidak perlu menerka-nerka pesan dalam foto.

Kini, di era di mana foto membanjiri layar ponsel dan komputer kita, caption menjadi semakin penting bagi media untuk menarik pembaca. Riset yang dilakukan Sara Quinn untuk National Press Photographers Association menunjukkan bahwa caption yang baik membuat satu foto dilihat 30% lebih lama oleh pembaca. Caption yang ditulis dengan baik membuat orang membaca dan kembali melihat foto secara berulang untuk memahami cerita.

Caption adalah teks yang menyertai foto jurnalistik. Fred S.Parrish dalam bukunyaPhotojournalism: An Introduction” menjabarkan bahwa caption membantu mengarahkan perspektif sebuah foto dan menjelaskan detail informasi yang tidak ada dalam gambar, membingungkan, atau tidak jelas.

Teks ini mengembuskan nafas untuk menghidupkan foto dengan memberi pendalaman akan sebuah peristiwa. Ia mempertemukan foto dengan konteksnya dan membantu pembaca membangun pemahaman akan sebuah cerita di balik foto. Jurnalis foto harus mengumpulkan data yang cukup untuk menulis caption.

Emilatul Husnah, 24, mengangkat beban saat berlatih rutin di Yogyakarta, Senin (19/10/2015). Emilatul adalah atlet angkat berat yang mengenakan hijab sebagai bagian dari keyakinannya. Meski begitu, ia terpaksa harus membuka hijabnya pada saat kompetisi karena mengikuti aturan lomba. Foto: Taufan Wijaya

Emilatul Husnah, 24, mengangkat beban saat berlatih rutin di Yogyakarta, Senin (19/10/2015). Emilatul adalah atlet angkat berat yang mengenakan hijab sebagai bagian dari keyakinannya. Meski begitu, ia terpaksa harus membuka hijabnya pada saat kompetisi karena mengikuti aturan lomba.
Foto: Taufan Wijaya

Pada foto di atas, data yang bisa disajikan adalah sebagai berikut,

Who       : Emilatul Husnah, 24 tahun

What     : Berlatih angkat berat.

Where   : Yogyakarta

When    : Senin, 19 Oktober 2015

Why       : Emilatul berlatih angkat berat dengan tetap mengenakan hijab meski dilarang saat bertanding.

Caption di atas bisa dibilang adalah teks pengantar yang paling sederhana. Secara umum penulisan caption dapat dibagi dua: complete caption dan published caption.

The Complete Caption

Keterangan foto lengkap memuat semua informasi berisi cerita dalam foto. Caption yang lengkap biasanya disertai kelengkapan data 5W + 1H. Penulisannya berformat gaya penulisan berita, yang dapat menjawab semua pertanyaan terkait foto. Biasanya caption jenis ini digunakan untuk foto lepas yang berdiri sendiri. Berikut ini adalah contoh caption lengkap:

PESAN DAMAI - Sejumlah warga negara asing yang merupakan teman dan keluarga korban Bom Bali menyalakan lilin bertuliskan "PEACE" di ground zero Sari Club di Jalan Raya Legian Kuta, Bali, Kamis (9/10/2013). Berkaitan dengan setahun bom Bali di seberang Sari Club dan Paddy's Pub dibangun monumen dari batu granit berukuran 3 x 2 meter yang memuat nama 202 korban bom Bali dari 22 negara termasuk dari Indonesia. Foto: Kompas/Agus Susanto

PESAN DAMAI – Sejumlah warga negara asing yang merupakan teman dan keluarga korban Bom Bali menyalakan lilin bertuliskan “PEACE” di ground zero Sari Club di Jalan Raya Legian Kuta, Bali, Kamis (9/10/2013). Berkaitan dengan setahun bom Bali di seberang Sari Club dan Paddy’s Pub dibangun monumen dari batu granit berukuran 3 x 2 meter yang memuat nama 202 korban bom Bali dari 22 negara termasuk dari Indonesia.
Foto: Kompas/Agus Susanto

Foto berita tunggal yang sifatnya berdiri sendiri biasanya tidak terkait dengan pemberitaan pada sebuah edisi tapi menceritakan kisahnya sendiri. Foto jenis ini di suratkabar dapat dipasang di halaman manapun termasuk halaman terakhir.

The Published Caption

Yang kedua adalah Published caption. Yaitu keterangan foto yang dibuat untuk disiarkan atau dimuat melalui media massa. Penyajian published caption lebih ringkas karena tidak semua informasi yang dimiliki dicantumkan dalam penulisannya. Pada published caption biasanya memuat:

  • Overline/tagline/atau judul. Sama seperti judul berita tulis, gunanya untuk menarik perhatian pembaca. Biasanya terdiri dari 2-3 kata dan dipisah menggunakan tanda strip dengan teks foto.
  • Keterangan foto. Yaitu kalimat berisi kejadian/peristiwa, nama, lokasi, dan waktu pemotretan. Latar belakang foto yang dapat memperkuat cerita dapat ditulis pada kalimat kedua.

 

Berikut ini yang harus dicermati oleh fotografer dalam mengumpulkan data untuk caption. Semakin banyak data yang diperoleh, semakin mudah menyusun caption. Sebaliknya, semakin sedikit data yang diperoleh maka semakin susah menuliskannya.

Who

  • Nama subjek dalam foto. Selalu tanyakan bagaimana mengejanya supaya tidak salah dalam penulisan.
  • Tanyakan umur, bila dalam foto memuat anaknya tanyakan juga umurnya dan duduk di kelas berapa si anak bersekolah.
  • Tanyakan alamat di mana subjek tinggal (untuk bekal data bila ingin mengelaborasi cerita di kemudian hari).
  • Nomor telepon bila dibutuhkan untuk konfirmasi.
  • Tanyakan hal-hal lain yang relevan dengan diri subjek, misalnya apa pekerjaanya dan kehidupannya.
  • Saat memotret personel militer, berusahalah memeroleh nama dan kesatuannya. Jangan berasumsi satu pasukan berasal dari kesatuan yang sama. Sebagian dari mereka bisa berasal dari Marinir atau pasukan yang berbeda.

What

  • Selalu identifikasi peristiwa dengan benar secara menyeluruh. Misalnya sebuah acara parade sekolah jangan lupa menyertakan keterangan apakah itu adalah acara tahunan dan seterusnya.
  • Pastikan akurasinya, jangan menduga-duga.
  • Carilah informasi yang spesifik tentang apa yang ada dalam foto.

When

  • Tulislah hari, bulan, dan tahun. Seringkali foto jurnalistik dimuat beberapa saat setelah peristiwa terjadi.
  • Pada peristiwa tertentu jurnalis foto harus tahu waktunya dengan pasti, misalnya sebuah kebakaran berawal pada pukul 8.20 WIB dan seterusnya.

Where

  • Carilah data lokasi peristiwa dengan lengkap. Nama jalan, desa, dan seterusnya.
  • Carilah data tempat yang lebih spesifik. Misalnya nama gedung, atau pemilik tempat.

Terakhir ditambah Why

Pastikan memeroleh data why dengan benar. Misalnya kenapa sebuah acara diadakan di atas danau, seorang ibu menangis pilu dan seterusnya. Atau keterangan berupa sebab dari suatu kejadian. Seringkali data-data tentang “why” ini tidak dibutuhkan dalam penulisan caption pendek, tapi jurnalis foto memerlukannya untuk menulis keterangan foto pada stand-alone image.

(bersambung)

 

 

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in Jurnalistik and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s