Visual Literasi?

Saya tidak ingat pastinya bagaimana obrolan itu bermula, yang teringat betul adalah fotografer ini mengatakan bahwa ia tak ingin tahu visual literasi. Alasannya adalah, “Jadi motret banyak pertimbangan. Malah nggak motret ntar.”

Demi mendengar itu saya termangu. Apa ini yang dipikirkan sebagian fotografer? Di kali lain, pernah ada orang yang mengirim pesan pendek, bertanya buku apa yang harus dibaca untuk belajar visual literasi. Ia ingin belajar visual literasi untuk memaknai foto. Apa guna visual literasi untuk memaknai foto?

Untuk mengurai benang kusut ini, saya bertekad belajar visual literasi lewat jalur pendidikan formal. Saya kemudian mengajukan surat kepada Konrad Adeuner agar mau membayar keikutsertaan saya di kelas ekstra di visual literasi. Demi ikut kuliah ini, saya rela tidak diberi kredit. Kuliah ini tak akan masuk dalam nilai akademik, sehingga saya kuliah tanpa mendapat apa-apa selain ilmu.

Di awal kelas dan tiap evaluasi tugas, saya selalu mencari jawaban apakah ilmu visual literasi itu. Namun profesor yang mengajar justru sering bertanya kembali. Ia ingin peserta kelas menjawab apakah itu “visual culture.” Memang, visual literasi adalah disiplin baru yang berkembang mulai era ’90-an. Sangat muda dibanding cabang ilmu lain di bidang komunikasi.

Kemudian saya baru bisa menyimpulkan bahwa visual literasi jauh lebih luas dibanding anggapan saya sebelumnya. Ia tak cuma mencakup fotografi dan tak hanya tentang makna-makna. Yang lebih penting, sejauh yang saya tangkap, adalah dengan visual literasi kita jadi paham bagaimana diri kita (dan komunitas kita) direpresentasikan di dalam dunia ini. Termasuk lewat media.

Dengan memahami bagaimana kita ditampilkan, kita jadi tahu apakah “tampilan” itu benar ataukah keliru. Kemudian, dengan kemampuan yang kita miliki kita mampu menjadi “counter narrative” yang menyampaikan tampilan visual seperti yang kita harapkan. Yaitu sesuai sebagaimana kita ingin ditampilkan.

Dalam visual literasi ada “image” dan “imagery”, ada “visual” dan “visuality”. Untuk menjelaskannya, saya telah mengumpulkan setidaknya tujuh buku referensi dan lusinan jurnal. Saya akan menulis buku tentang ini, dan mempersempit subjeknya pada visual literasi fotografi.

Mungkin saat ini yang bisa saya anjurkan bila ada yang bertanya bagaimana membaca sebuah foto, adalah semiotika. Karena visual literasi melampaui itu. Visual literasi menuntut wawasan tentang sejarah, politik, hingga antropologi.

Di sela-sela saya menulis buku, saya berencana mengisi kelas pendek visual literasi fotografi yang bisa menjadi laboratorium belajar.

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in Jurnalistik and tagged , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to Visual Literasi?

  1. triyono widigdo says:

    Andaikan mas taufan bs buka kelas singkat di lombok..

  2. Surya anantatama says:

    Terimakasih informasinya mas. Sangat membantu.

  3. jadi, di tengah-tengah perkembangan teknologi yang cepat dan apalagi mudahnya orang-orang untuk mengoperasikan sekaligus mempunyai kamera, apalagi dengan banyak lomba-lomba fotografi. apa yang menjadi peran visual literasi terutama dalam fotografi ?

  4. Aan says:

    nunggu edisi di Bandung atau Jogja mas. salam kenal dari Bandung dan Jogja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s