Sejauh Mana Karya Foto Bisa Digunakan Pihak Lain?

Kita saat ini berada di dunia yang tanpa batas, di mana informasi bertebaran di mana-mana, dan apa yang terjadi di belahan dunia lain bisa disaksikan di belahan bumi yang berbeda. Jauh-jauh hari, pada 1960’an Marshall McLuhan telah meramalkan ini dan menyebutnya sebagai “global village.”

Fotografi juga bagian dari informasi yang berserakan ini. Kita bisa dengan begitu mudah mendapat foto yang dibagi melalui media sosial atau laman-laman dan berita siber, sekaligus menyebarkannya. Nah, di sini ada aspek hukum yang perlu kita perhatikan, kenapa? Agar kita tidak melanggar hak orang lain (atau bertentangan dengan hukum) dan tidak menjadi korban atas aksi orang lain.

Aspek hukum yang saya maksud adalah copyright and related rights—yang kemudian di Indonesia ditulis sebagai Hak Cipta dan Hak Terkait (Silakan membaca posting ini untuk memahaminya).

Lalu sejauh mana kita bisa menggunakan karya foto orang lain?

Pertama, kita harus mengerti bahwa dalam Hak Cipta dan Hak Terkait melekat “Economic Right” dan “Moral Right”, hak ekonomi adalah hak mendapat keuntungan materi si pemilik karya foto atas ciptaannya. Sedangkan hak moral adalah hak di luar komersial atau non-ekonomi. Nah, ketika kita akan menggunakan foto orang lain, pertanyaan awal yang harus kita tanyakan ke diri kita sendiri adalah “Adakah kita melanggar hak ekonomi dan moral pemilik karya atau fotografer?”

Hak moral dalam karya fotografi selalu melekat, bahkan setelah hak cipta foto telah dialihkan (misalnya dijual atau disewakan). Makanya dalam setiap foto selalu ada kredit siapa fotografernya. Walaupun ada juga kasus di mana pemilik hak moral ini meniadakan haknya—dan itu juga merupakan haknya.

Kedua, meskipun di dunia ada Berne Convention for the Protection of Artistic and Literary Works serta World Intellectual Property Organization (WIPO)—di mana Indonesia meratifikasinya pada 1997, tapi karena yurisdiksi maka kita harus tunduk pada undang-undang yang berlaku di negeri ini. Yaitu UU Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014.

Ketiga, pembatasan atas hak cipta diatur dalam Bab VI, Pasal 44 ayat (1): Penggunaan, pengambilan, penggandaan, dan/atau pengubahan suatu Ciptaan dan/atau produk Hk Terkait secara seluruh atau sebagian yang substansial tidak dianggap sebagai pelanggaran Hak Cipta jika sumbernya disebutkan atau dicantumkan secara lengkap untuk keperluan: (a) pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah dengan tidak merugikan kepentingan yang wajar dari Pencipta atau Pemegang Hak Cipta.
Sehingga bila Anda ingin menggunakan karya foto orang lain untuk kebutuhan di atas, maka secara hukum diperbolehkan. Sebaliknya, bila karya Anda digunakan untuk kebutuhan di atas, mestinya Anda tidak perlu bereaksi berlebihan.

Keempat, UU No.28/2014 (sering saya sebut UU yang membingungkan) mengatur hak privasi—dalam undang-undang yang berlaku internasional—menjadi bagian dari hak cipta. Dalam Pasal 12 ayat (2): Penggunaan Secara Komersial, Penggandaan, Pengumuman, Pendistribusian, dan/atau Komunikasi Potret sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang memuat Potret 2 (dua) orang atau lebih, wajib meminta persetujuan dari orang yang ada dalam Potret atau ahli warisnya.

Jadi kalau Anda ingin membuat buku fotografi (bukan buku referensi/handbook fotografi) yang mana isinya foto-foto potret orang, dan Anda tidak punya izin tertulis (model release), maka setiap saat Anda bisa dituntut dan bersalah demi hukum.

Kelima, dalam pengaturan hak cipta ada pertimbangan “Private Right” versus “Public Interest”. Artinya ketika terjadi sengketa, maka pertimbangan untuk memutus kasusnya adalah apakah hak privat yang dimiliki oleh pencipta lebih penting dari kepentingan masyarakat atau orang banyak. Jadi bila foto karya seseorang yang digunakan oleh pihak lain melanggar hak cipta si pencipta, namun demi melayani kebutuhan publik yang lebih besar, maka pelanggaran ini bisa “dimaafkan”. Misalnya, demi tujuan pendidikan, kampanye sosial dan kesehatan, atau menjadi alat bukti.

Untuk sementara, saya bisa merumuskan lima hal penting di atas sebagai acuan bagi kita dalam melihat sejauh mana suatu karya foto bisa digunakan pihak lain. Posting ini terbuka untuk dikritisi, ditambahkan, atau mungkin direvisi.

Saya menggunakan acuan di atas ketika saya menulis buku “Foto Jurnalistik”dan “Photo Story Handbook” yang diterbitkan Gramedia, yaitu ketika menggunakan foto-foto dalam ilustrasi. Karena meminjam foto bukanlah perkara mudah: fee yang di atas 500USD per foto dan proses surat-menyurat yang rumit bisa sangat menghambat penulisan buku.

Hal yang saya lakukan untuk mengatasi kendala di atas adalah dengan misalnya saya memotret halaman buku secara keseluruhan (dengan foto di dalamnya) atau laman secara utuh untuk ilustrasi. Sehingga pemilik karya foto dan pemilik laman tidak dirugikan—karena justru saya promosikan di dalam buku. Faktor kedua yang membuat saya tenang adalah saya menggunakan foto-foto tersebut untuk tujuan pendidikan, bukan menggunakannya sebagai “print” untuk dijual sebagai koleksi, poster, atau pameran. Apa yang saya lakukan sebenarnya dilakukan juga oleh penulis buku di Barat.

Jika Anda saat ini sedang mengerjakan proyek fotografi baik untuk buku foto atau pameran, ada baiknya Anda mulai memahami undang-undangnya agar bisa menggunakannya secara bijak.

 

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in omongan and tagged , , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Sejauh Mana Karya Foto Bisa Digunakan Pihak Lain?

  1. winnymarlina says:

    Tetap harus ada copy rightnya ya

  2. gariswarnafoto says:

    hmmm…permasalahn dari mulai 2013 udah masuk pengadilan di US sama eropa sana bang.
    beberapa blogger dan perusahaan penyedia jasa konten udah diperkarakan di sono. karena secara tidak sadar menggunakan karya foto milik orang lain.
    sedangkan kesadaran hukum di kita kayaknya belum sampai ke tahapan itu.
    tapi kalau dilihat untuk komunitas sih sekarang sih udah maju. Udah hampir ngak ada yang menggunakan foto bajakan demi jadi FPE (jama fn dulu hehe). untuk industri juga udah ok.
    cuma untuk kesadaran foto di banyak web sepertinya kmapanye penggunaan ini harus diglakan,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s