Tentang Agan Harahap

Sebelumnya saya ingin meminta maaf bila celotehan saya tidak berkenan bagi Agan Harahap dan ribuan pengikutnya di Instagram, @taufanwijaya_ teramat kencur dibanding @aganharahap. Tulisan ini hanyalah opini saya tentang foto-foto hasil olah digital.

Malam kemarin saya datang ke sarasehan yang digelar oleh Kelas Pagi Yogyakarta, komunitas nirlaba yang bergiat dalam pendidikan fotografi di Jogja. Sarasehan itu satu di antaranya menghadirkan Agan Harahap untuk bercerita dan mempresentasikan karyanya.

Saya datang karena telah lama saya ingin tahu tentang Agan Harahap. Mengenainya, saya pernah mendengar teman saya menyinggung hasil kerjanya tentang foto-foto penyanyi Justin Bieber, Rihana, dan seleb lain. Beberapa waktu lalu ketika saya berkonsultasi untuk naskah buku baru saya tentang telaah fotografi pada Oscar Motuloh, ia mendorong saya karena, “Jangan sampe foto olahan dikira bener.” Sehingga malam itu adalah kesempatan baik bagi saya untuk mencari tahu tentang Agan Harahap ini.

Dalam sarasehan itu saya duduk di barisan terdepan demi dapat mendengar apa yang ia ceritakan. Banyak dari kami tertawa ketika ia membuat lelucon, termasuk ketika ia bangga telah mampu mengibuli Tempo dan Jakartapost dan banyak terbitan lain (terutama dotkom) dengan foto yang dipelintir. Namun dalam hati saya kecut. Bagi saya, membuat jutaan orang atau pembaca salah tafsir (misleading) bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan.

Harahap (penghormatan terhadap seorang Batak yang telah menikah adalah memanggil/menyebut dengan Marganya) tidak secara transparan menyebut hasil olah digitalnya sebagai rekayasa saat mengunggah karya-karyanya. Mendengar ia pernah membuat narasi dengan menyomot naskah berita Republika dan mengganti sesuka hatinya, cukuplah bagi saya untuk berasumsi bahwa akurasi atau kebenaran bukanlah perihal penting bagi Harahap. Pun ia tidak memberi penghargaan intelektual (copyright) pada pemilik foto-foto asli dengan menuliskan kreditnya.

Saya setuju di zaman di mana politik, agama, dan ras dicampur aduk, kita perlu lelucon. Lelucon yang menghibur atau mengolok-olok kekonyolan kita sendiri. Lelucon perlu karena di tengah kebobrokan para elit politik yang korup, tokoh agama yang menjual ayat-ayat, dan kaum pendengki antar-ras, tertawa adalah saluran terbaik. Toh saya terhibur dengan olahan fotonya pada Setya Novanto yang meringkuk dalam balutan kain jarik sehabis “papa minta saham”, dan sentilan humor lainnya.

Saya mengapresiasi upayanya yang menghabiskan banyak waktu mencari-cari foto di belantara internet dan mengotak-atiknya menjadi imaji baru. Kreativitas itu tak dimiliki banyak orang. Meskipun bagi kami yang bekerja dalam jurnalisme, perbuatan seperti itu adalah haram.

Rasanya soal otak-atik foto ini kita lebih maju dibanding bangsa Barat. Mereka sibuk menghasilkan gambar-gambar 3D yang mengagumkan seperti dalam Disney, Pixar, dan Marvel, sedangkan kita terbiasa sibuk menghilangkan jerawat di foto potret, mengganti latar foto prewedding dengan panorama Menara Eifel, dan seterusnya. Mungkin masyarakat kita menggemari foto-foto bersensasi.

Perihal yang mengusik saya adalah foto-foto bersejarah yang dimanipulasi (altered). Misalnya mata Soekarno yang jelalatan pada perempuan, Soeharto yang bertopi Sinterklas, Fidel Castro berkeris, dapat memunculkan kesalahan informasi di masa datang. Mungkin generasi di masa sekarang masih dapat mengakses mana foto asli dan foto lelucon ciptaan Harahap, namun kita tidak tahu 10 tahun mendatang bisa saja mesin pencari di internet justru menyajikan foto-foto olahan tersebut ketika orang mengumpulkan data sejarah.

Alangkah lebih baik bila foto-foto manipulasi Agan Harahap cukup berdiam di ruang-ruang galeri atau pameran. Tapi tentu ekspesi Harahap di media sosial tak bisa dibatasi demi kebebasan bersuara, namun setiap orang pada akhirnya akan bertanggungjawab atas tindakannya, baik secara etika dan moral.

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in omongan and tagged , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Tentang Agan Harahap

  1. Romi says:

    Mas Taufan Keren

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s