Panduan Meliput Konflik Bagi Jurnalis Foto

Setiap tahun ada saja tindak kekerasan terhadap jurnalis di Tanah Air. Setelah serangan terhadap jurnalis Medan oleh personel TNI AU, bisa dikatakan kerja jurnalis semakin tidak aman. Dan korban umumnya adalah jurnalis yang bekerja dengan kamera, karena peranti ini memang mudah ditengarai. Sehingga lawan atau pihak yang merasa dirugikan oleh keberadaan media mudah menyasar jurnalis.

Secara global, the Committee to Protect Journalists (CPJ), organisasi internasional untuk kebebasan pers mencatat dalam kurun 2016 sebanyak 48 jurnalis tewas. Dan sejak 1992 mereka mencatat 1.228 jurnalis tewas, sebagian di daerah konflik dan sebagian di antaranya adalah jurnalis foto.

Meski di Indonesia kita hidup dalam kedamaian, tak dimungkiri masih muncul konflik-konflik kecil di beberapa wilayah. Baik antara aparat keamanan dengan pihak yang ingin melepaskan diri dari republik, aparat dan kelompok teroris, hingga antar-warga. Untuk meliput konflik ini, jurnalis perlu pengetahuan yang cukup—bahkan idealnya jurnalis mengikuti pelatihan dulu sebelum terjun ke lapangan.

Tujuan utama pelatihan liputan konflik adalah memberi keahlian kepekaan. Di antaranya jurnalis belajar bagaimana mendengarkan desing peluru untuk mengetahui arahnya, mengevaluasi ketebalan tembok (apakah tahan peluru dan berapa lama bisa melindungi), belajar menyaring lumpur menjadi air bersih, bagaimana mencari tempat berlindung yang aman, dan seterusnya. Pelatihan ini biasanya dilangsungkan selama lima hari dan diikuti berkala tiap tiga tahun sekali.

Meliput konflik tidak lagi sama antara sekarang dengan dahulu ketika teknologi masih cukup konvensional. Teknologi internet, telepon pintar, dan perangkat yang lebih ringan semakin memudahkan jurnalis ketika berada di daerah konflik atau perang. Tapi internet melahirkan outlet berita secara online, yang di satu sisi menambah beban kerja jurnalis karena dituntut bekerja lebih cepat. Dan tekanan untuk bersegera ini bisa membahayakan jurnalis karena menjadi tidak cermat dan gegabah.

Jurnalis lepas (freelance) yang cenderung mengejar peristiwa (spot-news) juga memiliki tantangan tersendiri. Selain kebanyakan tidak pernah mendapat pelatihan khusus, mereka tidak memiliki asuransi kesehatan yang memadai. Sehingga bila terjadi kecelakaan, mereka harus menggunakan uang tabungan untuk berobat, lalu bangkrut.

Awalnya saya ingin menulis panduan ini dalam bentuk buku, tapi karena penerbit ingin mendahulukan naskah lain maka rencana itu urung. Sebagai bahan riset saya telah mewawancarai jurnalis-jurnalis foto yang berpengalaman meliput konflik seperti Kemal Jufri, Beawiharta, Ron Haviv, John Stanmeyer, Eddy Hasby. Agar wawancara tersebut bermanfaat, tips keamanan dan pengalaman mereka meliput konflik akan saya rangkum dalam tulisan pendek ini.

Peralatan liputan

Soal peralatan seperti kamera dan aksesorinya, meliput konflik sama saja dengan mengerjakan liputan lain. Selain lensa tele dan zoom lebar-menengah, peralatan lain yang diperlukan adalah: kamera cadangan; memori cadangan yang cukup; baterai tambahan; laptop; telepon satelit (bila perlu); modem internet; alat tulis; perekam suara untuk wawancara dan liputan multimedia; tas kamera dan pelindung dari hujan; mantel; senter atau head-lamp; pakaian ganti; dan seterusnya. Perhitungkan apa yang perlu dibawa dengan lamanya waktu liputan. Upayakan seringan mungkin. Setelah di lapangan, peralatan yang kita bawa itu yang akan mendukung kerja liputan kita, tanpa bisa menggantungkan pinjaman pada jurnalis lain.

Rompi anti-peluru

Kenakan rompi anti-peluru (anti-ballistic vest) di tengah medan perang atau meliput penyerbuan. Penting untuk diingat adalah rompi anti-peluru tidak kebal peluru. Rompi pelindung mungkin menahan proyektil, tapi manusia bisa terluka atau bahkan tewas akibat luka/trauma dari peluru kaliber besar atau peluru high-velocity. Rompi anti-peluru dikategorikan dalam enam tingkat ketahanan. Jurnalis harus paham rompi jenis apa yang diperlukan dalam suatu medan.

Harus diingat juga bahwa rompi pelindung perlu perlakuan khusus, misalnya plat keramik bisa pecah bila terjatuh, kevlar harus terjaga kering, dan seterusnya. Pada liputan kerusuhan atau demonstrasi besar, rompi pelindung dapat juga melindungi dari tusukan pisau, lemparan batu, dan seterusnya.

Helm

Jurnalis foto yang bekerja di daerah konflik memerlukan helm pelindung. Helm pelindung yang berbentuk seperti helm baseball ini melindungi kepala dari lemparan batu, dan pecahan proyektil, serpihan granat, dan sebagainya. Perlu diperhatikan bahwa helm pelindung tidak mampu menahan peluru dari senapan serbu.

Asuransi

Perlindungan asuransi yang rendah adalah masalah bagi jurnalis di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Bahkan banyak yang bekerja, terutama freelancers yang tidak terlindung asuransi sama sekali.

Padahal perlindungan asuransi penting untuk menjamin ganti rugi atas risiko cedera selama liputan. Bagi mereka yang telah memiliki asuransi, perlu mempelajari ulang jaminan yang ditanggung oleh perusahaan asuransi sebelum berangkat ke daerah konflik, karena konflik tidak termasuk dalam pertanggungan sebagian besar asuransi. Libatkanlah keluarga saat mengurus asuransi agar memahami apa saja yang ditanggung oleh asuransi, termasuk asuransi jiwa.

Persiapan Kesehatan dan Pertolongan Pertama

Modal paling penting sebelum meliput konflik mirip dengan meliput bencana, yaitu punya stamina yang baik. Pertama-tama kita haruslah dalam keadaan sehat. Pada daerah tertentu di mana terdapat endemi malaria, kita bisa melakukan vaksinasi terlebih dahulu. Sedangkan First-Aid Kits yang perlu dibawa adalah: perban dan plester; obat luka; parasetamol; antibiotik; obat diare; oralit.

Ketika di lapangan, sangat penting untuk mencermati hal-hal di bawah ini:

– Kenali wilayah dan petakan daerah rawan. Pertama kali adalah dengan riset dan dilanjutkan dengan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari sumber-sumber di lapangan. Banyak bertanya pada jurnalis yang lebih dulu datang di lokasi juga berguna sepanjang ia bisa dipercaya.

– Selalu berkonsultasi dengan editor pada setiap pergerakan dan keputusan kita. Penting bagi editor untuk tahu keberadaan kita dan karena ia mampu mengakses informasi dari luar, petunjuknya dapat membantu kita.

– Meski tidak menjamin keselamatan, bekerja secara berkelompok bisa lebih efektif. Setidaknya kolega kita dapat membantu di saat darurat.

– Kita mungkin sampai di lokasi sesaat sehabis bentrok atau adu tembak, dan mungkin kita menghadapi pemandangan mengerikan atau bisa juga reaksi tidak bersahabat dari orang-orang di lokasi, saat itu terjadi berusahalah untuk tenang. Selalulah waspada dan berkonsentrasi. Ingat, kamera kita tidak bisa menyelamatkan kita dari bahaya.

– Ketahuilah batasanmu. Daerah konflik seringkali keras dan kejam, bila di satu titik fisik atau psikis kita tidak mampu lagi berada di lapangan, sebaiknya jangan memaksakan diri karena bisa berakibat fatal. Jurnalis juga perlu beristirahat di sela-sela liputan untuk memulihkan stamina dan mengurangi stres.

– Kita hanyalah manusia biasa yang seringkali emosional, selalu berdiskusi dengan kolega saat di lapangan dapat menjaga independensi sekaligus tetap berpikir jernih.

Selain aspek fisik menyangkut persiapan dan kesiagaan, aspek etika dan bagaimana bersikap di daerah konflik sama pentingnya. Di antaranya adalah:

– Bersikaplah pada orang lain di daerah konflik dengan hormat. Baik pada pelaku maupun penyintas, lakukan pendekatan dengan empati. Misalnya, ketika berbincang menggunakan ungkapan,”Saya turut prihatin dengan kondisi…” dan bukannya, “Saya paham kondisi ini…”

– Bergeraklah secara halus dan seminimal mungkin tidak mengganggu saat memotret suasana duka atau pemakaman. Hormati privasi subjek.

– Perkenalkan diri saat bertemu dengan orang secara jelas dan transparan, sebutkan nama kita dan dari institusi apa.

– Jangan menginterogasi. Lakukan wawancara dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan ringan sebagai pembuka dan beri kesempatan narasumber menjelaskan. Baru gali lebih dalam. Berhati-hatilah saat mengajukan pertanyaan pada orang yang kehilangan anggota keluarganya.

– Bila narasumber tak ingin menjawab pertanyaan atau tak mau difoto, hormatilah. Tinggalkan kartu nama dan jelaskan bahwa bila ia berubah pikiran bisa menghubungi kita kembali. Seringkali cara ini berlanjut pada temuan cerita yang sangat menarik.

– Selalu akurat. Jangan membuat laporan dari menduga-duga, pastikan telah mengecek informasi secara benar. Penulisan nama, lokasi, kronologi kejadian dan waktunya, siapa saja yang terlibat dan menjadi korban, kutipan-kutipan penting dari narasumber, dan seterusnya. Membuat catatan selama reportase sangat penting.

Setelah kembali dari meliput konflik, lakukanlah konseling dengan psikiatri. Atau setidaknya bicaralah dengan seseorang atas apa yang kita alami selama meliput konflik (curhat). Jurnalis foto peliput konflik umumnya mengalami Posttraumatic Stress Disorder (PTSD) dengan gejala yang tampak maupun laten. Dampak PTSD tidak langsung muncul tapi bisa beberapa waktu kemudian. Carilah hobi atau kesibukan baru sepulang dari meliput konflik. Hal ini efektif untuk menyegarkan kejiwaan.

Liputan konflik kadang merupakan pilihan, kadang menjadi kewajiban bagi sebagian jurnalis. Bahaya menunggu, namun mewartakan kabar dari garis terdepan juga merupakan tugas mulia.

Kiat-kiat di atas bukanlah “survival guide”, tapi bisa membantu untuk meminimalisasi risiko bahaya bagi jurnalis foto saat meliput konflik. Karena pelatihan terbaik sekalipun tidak bisa memberi jaminan keselamatan bagi jurnalis. Setiap konflik punya kekhasan dan punya aturan tidak tertulis masing-masing.

Advertisements

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in Jurnalistik and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Panduan Meliput Konflik Bagi Jurnalis Foto

  1. winnymarlina says:

    salut pernah disuruh hapus ama polisi photoku hiks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s