Doa yang Tercerai

Di depan kendi gerabah yang diplester semen, Shinta Ratri, Ketua Pesantren Waria Al-Fatah membasuh sebagian tubuhnya sebagai wudhu. Air dari kendi itu ia timba dari sumur di sebelahnya. Kemudian di rumah utama ia mengenakan mukena dan menunaikan salat. Tak ada lagi salat berjamaah di rumah itu.

Rumah itu adalah rumah limasan kayu dengan bagian tengah ditopang empat saka yang juga terbuat dari kayu. Di ruang tengah di mana Shinta salat, pada tiap Minggu sore hingga malam saat pesantren masih aktif, diisi oleh jemaah waria. Selain salat berjamaah, mereka akan mengaji dan belajar membaca Quran di teras.

“Sekarang kami hanya bisa ibadah sendiri-sendiri,” kata Shinta di sore hari di akhir Februari 2016.

Shinta adalah kelahiran 1962 yang merasa sebagai perempuan sejak SMA. Sejak awal  keluarganya tidak mempermasahkan itu hingga ia memantapkan diri sebagai waria. Sudah dua tahun ia menjadi pemimpin satu-satunya pesantren khusus waria di Indonesia, mungkin di dunia. Sore itu ia duduk bersila di atas karpet sewarna rumput. Di hadapannya adalah empat orang tamu yang bersimpati atas apa yang menimpa pesantren. Dua di antaranya adalah mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas akhir.

Pesantren Al-Fatah didirikan oleh Maryani pada 2008 di rumah kontrakannya di Notoyudan (sebelumnya bernama “Pesantren Khusus Waria Al-Fattah Senin-Kamis”). Maryani adalah karib Shinta. Setelah kematian Maryani pada 2014, pesantren diteruskan oleh Shinta yang kemudian memboyongnya ke Kotagede, tujuh kilometer ke arah selatan dari tempat semula.

Dari jalan utama sebelum Pasar Kotagede, untuk sampai di rumah Shinta harus melalui gang sempit yang tidak bisa dilalui mobil. Dari jalan yang sempit itu, pesantren berada di antara impitan rumah lain. Saking kecilnya, orang bisa bersenggolan bila jalan berpapasan. Tak ada plang atau petunjuk arah untuk menemukan Pesantren Al-Fatah, hanya mereka yang membuat janji bertemu santri dan pengurus yang akan dipandu untuk menemukan lokasi.

Meski begitu banyak penduduk di sekitar pesantren di Dusun Celenan, Desa Jagalan, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta tahu keberadaan Al-Fatah. Mereka tak pernah meributkan, apalagi Shinta sebagai penduduk asli telah dikenal luas di daerah tempat ia tinggal.

Tak ada kesan makmur di pesantren yang didominasi warna krem dan sebagian hijau itu. Akses masuk ke bangunan utama yang menjadi pusat kegiatan justru sebuah pintu dapur di anak bangunan yang sering juga digunakan sebagian santri dan sahabat Shinta untuk memarkir motor. “Ini adalah rumah warisan nenek,” kata Shinta mengawali cerita rumahnya. Dari desain bangunan, tekstur kayu, dan ornamennya terlihat bahwa rumah limasan khas Jawa itu telah berumur tua.

Selain rumah utama, terdapat bangunan semi permanen membentuk huruf L yang menjadi kamar-kamar kos yang disewakan Shinta.

Di teras rumah utama para santri mengaji. Pengajian diadakan sekali tiap hari Minggu mulai sore selepas Asar dan ditutup dengan salat Isya berjamaah. Dalam salat waria di Al-Fatah bebas memilih identitasnya, yaitu mengenakan mukena atau bersarung layaknya mukmin laki-laki. Berbeda dengan bentuk pesantren konvensional lain di mana terdapat pemondokan bagi santri, pesantren waria ini lebih menyerupai kelompok pengajian.

Sebelum ditutup paksa, sebuah papan berisi agenda pengajian dan pengumuman tergantung di satu sisi dinding di teras rumah. Di bawahnya bersandar papan tulis yang digunakan ustad dan santri untuk belajar membaca-tulis Bahasa Arab. Kini papan-papan itu telah disingkirkan pengurus pesantren demi keamanan.

Gelombang penolakan terhadap keberadaan Lesbian Gay Biseksual dan Transgender (LGBT) di Tanah Air meninggi setelah banyak perbincangan tentang hak LGBT di media arus utama dan media sosial, menyusul keputusan Pengadilan Tinggi Amerika yang melegalkan perkawinan sesama jenis di seluruh Amerika Serikat pada Juni 2015. Para LGBT dan simpatisan LGBT ramai membagi kabar gembira atas pengakuan identitas mereka atau beropini lewat akun-akun jejaring sosial mereka.

Namun keramaian itu justru menjadi pukulan balik. Muslim fundamentalis menolak keras. Penolakan itu melalui demonstrasi di beberapa kota besar, intimidasi, hingga tuntutan penutupan pesantren waria di Yogyakarta.

Siang hari pada 19 Februari 2016, belasan orang bersurban, kupluk, dan rompi dengan berboncengan sepeda motor mendatangi Pesantren Waria Al-Fatah. Mereka adalah Front Jihad Islam (FJI). Bersama polisi yang dipimpin Kapolsek Banguntapan Kompol Suharno dan Kepala Desa Gatot Indriyanto, mereka melakukan penyisiran di pesantren. Polisi datang lebih dulu setelah ajakan berjihad FJI ke pesantren tersebar melalui grup WhatsApp dan Blackberry Messenger. Hari itu pesantren disegel.

Tuntutan FJI adalah menghentikan aktivitas Pesantren Al-Fatah. Bagi mereka, waria tak memiliki tempat dalam Islam karena kitab hanya menyebut laki-laki dan perempuan. Menurut FJI, waria harus bertobat dan menjadi laki-laki.

FJI didirikan pada 2007 dan dibaiat oleh Abu Bakar Ba’asyir–kelak divonis 15 tahun atas keterlibatannya dalam aksi terorisme. FJI sebagai ormas bergerak di bidang sosial, keagamaan, dan kelaskaran. “Laskar inilah yang menjadi ujung tombak amar ma’ruf nahi munkar (mengajak kebaikan dan melarang yang buruk),” kata Wawan, juru bicara FJI. Menurutnya bagian kelaskaran ini diaktifkan bila ada masalah di masyarakat yang muncul.

Markas FJI adalah bangunan joglo di tepi Jalan Padokan, Bantul, yang sepintas hanya terlihat sebagai pondok tempat berkumpul warga RT, hingga seseorang bisa melihat sebuah banner di satu sisi joglo, barulah tahu bahwa itu sebuah markas. Banner itu berwarna putih dengan lambang tulisan Arab dan pedang bersilang.

Markas mungil itu berjarak sekitar 100 meter dari Polsek Kasihan Bantul. Setiap Kamis malam sebagian anggota tetapnya mengadakan pengajian. Abdurrahman, komandan mereka tinggal bersama keluarganya di belakang markas itu.

Abdurahman berpenampilan biasa, sering mengenakan t shirt dan celana jeans yang menyentuh mata kaki. Tak ada kesan penganut budaya Timur Tengah yang mengenakan surban atau jubah panjang. Hobinya mengendarai trail dan banyak tersenyum saat bicara. Namun ketika ditanya pandangannya tentang LGBT ia lugas menjawab, “Kalau agama, LGBT itu wajib dibunuh. Kalau mereka tidak mau bertobat. Kalau bertobat itu alhamdulillah.” katanya saat ditemui seminggu sesudah penutupan pesantren.

Di beberapa kesempatan wawancara, Wawan dan Abdurrahman mengatakan bahwa bukan FJI yang menutup pesantren, melainkan muspida setempat. Memang selang beberapa hari setelah kedatangan FJI disertai penyegelan itu, melalui musyawarah warga yang melibatkan camat Jati Bayu Broto, Shinta, dan seorang pengurus pesantren terpaksa tunduk untuk menutup segala aktivitas Al-Fatah. Dalam rapat tersebut, dua perwakilan pesantren melawan selusin anggota FJI yang meneriakkan takbir.

Yuni Shara, 49, yang lebih senang dipanggil YS adalah pengurus pesantren yang datang menemani Shinta dalam musyawarah warga yang berujung penutupan pesantren. Ketika penutupan itu, ia masih dalam tahap belajar membaca Quran dan kini upayanya belajar terhenti.

Seperti kebanyakan waria lain, sebelum ikut pesantren YS sempat hidup di dunia prostitusi. Mereka menyebut pekerjaan mangkal di stasiun dan jalanan itu dengan ‘mejeng’.

Setelah penutupan, YS masih sering ke rumah Shinta. Selain menghabiskan siang dengan kopi dan rokok, ia aktif di banyak kegiatan termasuk menjadi narasumber bagi peneliti dan wartawan. Seperti siang itu ia hanya tiduran di karpet hijau di teras Shinta. Sesekali ia membuka-buka teleponnya. Siang mulai menuju sore dan ia tidak makan hingga pewawancaranya siang itu mengajaknya membeli nasi untuk makan siang.

Hanya sedikit waria yang bisa mendapat pekerjaan yang mencukupkan kebutuhan hidup seperti di salon. Mereka banyak mendapat penolakan. Ketika terbuang dari keluarga, jalan hidup yang paling mudah adalah menjual diri. Nur, salah satu santri Al-Fatah bahkan sempat tinggal di kuburan selama berbulan-bulan sebelum akhirnya ‘mejeng’ dan bisa menyewa kamar kos. Sebagian waria termasuk Nur yang pensiun dari ‘mejeng’ akhirnya memilih jalan hidup sebagai pengamen.

Pesantren merupakan tempat yang nyaman bagi para waria ini beribadah. YS misalnya, kapok pergi ke masjid konvensional karena sering mendengar bisik-bisik di sebelahnya atau jadi bahan tertawaan anak-anak.

Alasan inilah yang membuat Arif Nur Safri mengabdi sebagai ustad Pesantren Al-Fatah tanpa dibayar. Arif adalah dosen di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Ketika ditemui di sela-sela mengajar di kampusnya, ia menganggap mengajari waria tentang Islam adalah bagian dari ibadah. Ia tidak melihat waria dalam hitam dan putih, tapi melihat mereka sebagai manusia. Karena menurut Arif, Islam datang untuk membawa kebaikan bagi semua.

Dengan ditutupnya pesantren waria, mereka bisa beribadah sendiri-sendiri namun sebagian hak mereka terampas. “Bagaimana dengan belajar Quran dan salat berjamaah?” tanya YS. Ia dan Shinta menutup sore itu dengan merebahkan diri di kursi. Sayup-sayup terdengar Adzan dari masjid Kotagede, namun tak ada lagi santri lain yang datang.

Advertisements

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s