Teori Gestalt

Sebagian fotografer menggunakan Gestalt Theory atau Gestalt Principles untuk membantu mempersepsikan foto. Ada juga kelas foto yang menyisipkan ini dalam pembelajaran mereka. Sebagian merasa perlu, sebagian tidak. Tapi apa sebenarnya teori Gestalt ini?

Gestalt berasal dari Bahasa Jerman yang berarti “keseluruhan pengelompokan”.
Pendekatan Gestalt ini banyak dipakai untuk design karena berhubungan erat dengan pengkomposisian. Misalnya logo the Wildlife Federation yang langsung orang tangkap sebagai panda atau beruang, padahal bentuk itu hanya terdiri dari bidang-bidang hitam dan putih. Dalam pendekatan Gestalt, persepsi berelasi langsung dengan pengalaman, ingatan, dan wawasan pemirsa atas benda-benda lain.

Teori Gestalt memungkinkan orang melihat bentuk gelap-terang dari suatu objek, sisi-sisi, dan kontur keseluruhan gambar tanpa memikirkannya. Maksudnya adalah kita melihat kumpulan atau rangkuman bentuk berbeda dari persepsi figur yang kita tangkap. Sebuah bentuk kotak ketika diputar bisa ditangkap sebagai bentuk berlian, dan seterusnya.

Psikologi Gestalt ini memuat prinsip-prinsip atau ‘hukum-hukum’. Yang sering digunakan dalam fotografi adalah:

– Similarity
Benda atau bidang yang mirip dianggap berhubungan. Misalnya dalam foto kita sering melihat pola garis yang lebih cepat ditangkap pemirsa karena adanya orang yang berdiri di sana.
Prinsip similarity ini biasa digunakan untuk membuat pola repetisi yang bagi banyak orang membuat mata terasa nyaman. Seringkali kita melihat objek foto yang diletakkan (dikomposisikan) di antara jendela-jendela atau tiang-tiang bangunan.

REUTERS/Jim Young

Dalam prinsip similarity ini, bila designer atau fotogrefer ingin menekankan sesuatu (membuat emphasis) maka ia bisa memunculkan sesuatu yang menabrak atau bertentangan dengan repetisi.

photo: Huffingtonpost

– Continuity
Prinsip Gestalt lain yang sering diaplikasikan dalam visual adalah Continuity. Karena orang cenderung lebih suka kontur yang terbentuk atas kontinuitas dibanding dengan pola yang berbeda-beda arahnnya.
Kontinuitas mengarahkan mata untuk menuju ke bidang atau objek tertentu. Dalam beberapa sajian kontinuitas ini bisa menciptakan ilusi.

Photo: Henri Cartier-Bresson

– Common fate
Dalam prinsip ini, manusia cenderung melihat kelompok objek sebagai garis bergerak dalam lintasan halus–yang dianggap sebagai stimulus tunggal. Mengenai common fate, seringkali praktisi melihatnya beririsan dengan prinsip continuity.

Photo: National Geographic

– Closure
Manusia cenderung ‘menutup’ suatu objek dibanding ‘membuka’ (tidak lengkap). Maksudnya adalah manusia punya tendensi menganggap figur itu secara menyeluruh dan utuh melalui garis dan bidang sehingga yang tidak lengkap akan dilengkapi. Contohnya bentuk segitiga atau kotak atau bentuk tertentu meskipun tidak ada garis yang melukiskan itu ada ‘gap’ di antaranya, orang tetap bisa melihatnya sebagai segitiga.

– Figure and ground
Dalam prinsip ini area yang lebih kecil (biasa disebut smallness) cenderung dilihat sebagai figur yang menentang latar yang lebih luas. Selain smallness ada faktor gelap-terang (light/dark) juga misalnya dalam contoh “rubin’s vace’.

 

About taufanwijaya

Membaca, memotret, menulis, traveling, mendengarkan musik, dan makan sama enaknya... twitter @taufanwijaya_
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s