Rhymes

Nanti, Di Sana

Saat ini kamu sedang di langit. Duduk dalam awan yang direbut malam, pekat.
Mungkin kamu terlelap, mungkin saja kamu memikirkan aku di sini.
Adakah kecupmu yang ingin kamu jatuhkan? Sehingga aku tak lelah menengadah?
Hujan di permulaan malam membawa keriuhan pasangan yang berbagi suap makanan.
Aku di sini menahan lapar dibebani tanggung jawab.
Gendis, aku terus berusaha menerbangkan harapan-harapan.
Akan kupasang sayap kokoh pada doa-doa sehingga ia turut terbang bersamamu.
Nanti, di suatu tempat di pagi hari, kita bisa bangun bersama.
Setelah malam yang pekat, kita akan bangun, bukan di tempat yang kita
bisa tersesat…

QZ7795 pada 7/2, 20:10 WIB

Ah..

Waktu kadang menjadi teman yang bengis.
Memaksaku mengunduh murung saat batas isyarat mengabur.
Jiwaku meringkuk, ringkih, menjalani laku rindu.
Bayangmu menjelma menjadi tembok tanpa jendela, sehingga aku tak mampu melihat apa-apa selain wajahmu.
Untuk sesaat tangan tak bisa menggapai tubuhmu, dan mata tak bisa
menikmati manis senyummu. Aku tahu, sepenggal pesanmu mampu
mengucurkan sejuk.

Cahaya

Malam telah melapisi jendela
Dan gelap menutup pandangan
Kehidupan melambat, tapi belum selesai
Dunia ini memang pekerjaan Tuhan yang belum selesai

Sebelum ada lampu ada lilin
Di satu malam yang kering ia berkata,
“Katakanlah pada musim yang menidurkan pohon-pohon dan mengubah bentuk horison, bahwa cahayaku bukan sesaat meski padam. Ia hanya akan berubah menjadi hangat di atas permukaan kulitmu.”

Ia melanjutkan,

“Tahukah kamu bahwa menjadi lilin adalah kedunguan. Ia menjadi terang karena disulut, lalu meleleh. Berbahagialah kamu, yang bisa menjadi cahaya karena pilihanmu sendiri. Dan tanpa harus hancur…”

candle_lilin_taufan

Hidup Adalah Kamu

Bila aku dan orang-orang lain hanya menerima kehidupan dan berupaya untuk tetap hidup, kamu tidak.
Kamu bersama Sang Pencipta menciptakan hidupmu, menjadikan pilihan yang kamu ambil.
Kamu punya andil sehingga kamu bernafas saat ini.
Kemudian kamu mengubah banyak hal dalam hidupku.
Hal-hal yang seharusnya kuubah.
Setelah kemarin, kamu adalah hidupku.
Bila kamu pergi? Aku hanyalah sekumpulan akal yang seolah-olah hidup.
Aku tak bisa hidup tanpa larut pada ingatan surat, botol minum, kamera, masakan, termasuk berlarian mengejar perahu.
Terima kasih telah membiarkan perasaanku bercengkerama dengan hidup.

Pelangiku

Apalah artinya hujan yang turun saat mentari masih memijar.
Karena bulir-bulir air terkecil akan memerangkap biasnya.
Kemudian muncullah pelangi, warna-warni yang elok.
Apakah ada kamu saat hujan itu?

Kamu tak hanya hadir setelah hujan wahai pelangi.
Kamu berdiam dalam hujan, menunggu giliran muncul dalam keindahan.
Ikut meluncur deras saat tetes air dari langit jatuh ke bumi.

Apakah aku hujan? Atau sekadar embun?
Pelangi bisa tahu apa bentukku yang sejati.
Karena aku juga yang membuat dirimu berwujud.
Dan aku bahagia, karena aku jadi bagian dari dirimu.

Hujan dulu dan sekarang

Di Bawah Pohon Beringin

Di bawah pohon beringin banyak orang dahulu berlindung,
Berlindung dari hujan, berlindung dari rasa lapar,
Karena penguasa menggunakan pohon beringin.
Pohon beringin memang begitu kokoh untuk bahkan bergelantungan di akar-akar gantungnya.
Sementara akar yang di tanah menyerap air sebanyak-banyaknya,

Tapi pohon beringin juga dapat melindungimu dari sengat petir, kata ayahku.
Malam ini aku berada di bawah pohon beringin tua bersama kekasihku,
Pohon beringin itu tak pernah tua meski dimakan usia,
Karena ia selalu menyerap energi cinta pasangan kekasih di bawah rimbunnnya.
Bagiku, pohon beringin itu memberi perlindungan dari embun yang jatuh dari langit,  ia juga memberi gelap yang membuatku leluasa mencumbu kekasihku,
Leluasa dari orang-orang yang penasaran,
Orang-orang yang iri bila mendapati sepasang kekasih mereguk kedamaian,
Meski hanya di bawah pohon beringin.

Sketsa oleh Cecelia Uidjaja

Jalan

Orang-orang sibuk ke tempat kerja di pagi hari,                                                                Mereka kemudian lebih sibuk saat bekerja.                                                                     Sebagian lagi masih di jalanan, berjejal, menghirup asap dari mesin keinginan.                      Perempuan-perempuan berbaju indah melintas,                                                                  Mereka selalu berusaha terlihat indah.                                                                                            Tak peduli bila indah itu harus dibayar dengan rasa sakit.                                               Klakson menjerit-jerit dan mesin masih mendengungkan kecemasan.                                                                                                                               Mereka sibuk mencari sesuatu yang seolah mereka tahu tapi sebenarnya tidak.                                                                                                                                            Sehingga saat mencapainya, mereka merasa tak pernah sampai karena keinginan dan hatinya berada di kutub yang berjauhan.                                                                               Meski begitu, bekerja tetaplah berguna.                                                                                    Tapi akan lebih berguna bila menghitung umur untuk menyentuh jiwa yang mekar.                                                                                                                                 Mendekati hati yang sebelumnya samar.                                                                                   Aku memilih duduk di bangku ini sebentar, untuk kemudian beranjak.                                                                                                                                          Aku ingin menemuimu.                                                                                                             Selalu terselip kerinduan saat kita tak bisa bertemu. Dan kerinduan-kerinduan yang ganjil saat kita bersama, seperti ada dirimu yang lain di kejauhan.

Sentuhan

Ini tanganmu
Yang kau raihkan padaku
Dan ini tanganku,
Yang kamu gapai dalam genggamanmu
Sentuhanmu mengantarkan nyanyian penghuni gunung-gunung
Nyanyian yang hanya diperdengarkan sekali dalam sejarah masa
Tapi aku menjadi takut ini menjadi sentuhan terakhir
Halaman kertas tak cukup menampung kata
Menerbangkan kenangan yang bersembunyi dalam sepatu
Aku tak ingin takut
Aku ingin memiliki rasa seperti pasien kanker yang kamu sentuh
Rasa di mana harapan dan semangat bertemu
Dan keyakinan bahwa hidup bisa lebih lama karena sentuhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s