Sejauh Mana Karya Foto Bisa Digunakan Pihak Lain?

Kita saat ini berada di dunia yang tanpa batas, di mana informasi bertebaran di mana-mana, dan apa yang terjadi di belahan dunia lain bisa disaksikan di belahan bumi yang berbeda. Jauh-jauh hari, pada 1960’an Marshall McLuhan telah meramalkan ini dan menyebutnya sebagai “global village.”

Fotografi juga bagian dari informasi yang berserakan ini. Kita bisa dengan begitu mudah mendapat foto yang dibagi melalui media sosial atau laman-laman dan berita siber, sekaligus menyebarkannya. Nah, di sini ada aspek hukum yang perlu kita perhatikan, kenapa? Agar kita tidak melanggar hak orang lain (atau bertentangan dengan hukum) dan tidak menjadi korban atas aksi orang lain.

Continue reading

Posted in omongan | Tagged , , , | 3 Comments

Visual Literasi?

Saya tidak ingat pastinya bagaimana obrolan itu bermula, yang teringat betul adalah fotografer ini mengatakan bahwa ia tak ingin tahu visual literasi. Alasannya adalah, “Jadi motret banyak pertimbangan. Malah nggak motret ntar.”

Demi mendengar itu saya termangu. Apa ini yang dipikirkan sebagian fotografer? Di kali lain, pernah ada orang yang mengirim pesan pendek, bertanya buku apa yang harus dibaca untuk belajar visual literasi. Ia ingin belajar visual literasi untuk memaknai foto. Apa guna visual literasi untuk memaknai foto?

Continue reading

Posted in Jurnalistik | Tagged , , | 4 Comments

Objektivitas Foto

Fotografi muncul untuk menggapai cita-cita obyektivitas, karena dipercaya mampu memaparkan kembali realitas visual secara presisi. Berbeda dengan lukisan yang bergantung pada tekanan dan sapuan kuas, foto dianggap merupakan jiplakan alam nyata ke dalam medium lembar dua dimensi. Dan kamera membantu fotografer memindahkan imaji tersebut.

Continue reading

Posted in Jurnalistik | Tagged , , , | 2 Comments

Penulisan Caption Foto (Bagian 1)

Dalam foto jurnalistik, suatu foto bagus bisa tidak berarti apa-apa tanpa caption. Karena keberadaan caption sama pentingnya dengan gambar itu sendiri. Caption membuat pembaca tidak perlu menerka-nerka pesan dalam foto.

Kini, di era di mana foto membanjiri layar ponsel dan komputer kita, caption menjadi semakin penting bagi media untuk menarik pembaca. Riset yang dilakukan Sara Quinn untuk National Press Photographers Association menunjukkan bahwa caption yang baik membuat satu foto dilihat 30% lebih lama oleh pembaca. Caption yang ditulis dengan baik membuat orang membaca dan kembali melihat foto secara berulang untuk memahami cerita.

Caption adalah teks yang menyertai foto jurnalistik. Fred S.Parrish dalam bukunyaPhotojournalism: An Introduction” menjabarkan bahwa caption membantu mengarahkan perspektif sebuah foto dan menjelaskan detail informasi yang tidak ada dalam gambar, membingungkan, atau tidak jelas.

Continue reading

Posted in Jurnalistik | Tagged , , , , , | Leave a comment

Dunia Fotografi, Dunia Pria

Dalam setiap pekerjaan dan hobi, selalu ada kecenderungan gender. Para pemikir mengatakan, untuk memahami dunia, “engendered everything!” Pun begitu dalam fotografi. Tanpa menafikkan para fotografer perempuan kamerad, fotografi adalah dominasi laki-laki.

Pertama-tama, mari kita bicara data. Dari 1,556 fotografer yang disurvei untuk laporan World Press Photo (WPP) tahun ini, jumlah perempuan hanya 15 persennya—sangat jauh dibanding jumlah laki-laki.

Continue reading

Posted in omongan | Tagged , , , , , | Leave a comment

Sensor Pada Fotografi

Membicarakan sensor di sini bukanlah tentang perangkat dalam kamera yang berfungsi merekam gambar, melainkan pengawasan dan pembatasan pada karya fotografi. Sensor terjadi sejak masa lalu dan berevolusi hingga kini.

Continue reading

Posted in Jurnalistik | Tagged , , , | Leave a comment