Teori Gestalt

Sebagian fotografer menggunakan Gestalt Theory atau Gestalt Principles untuk membantu mempersepsikan foto. Ada juga kelas foto yang menyisipkan ini dalam pembelajaran mereka. Sebagian merasa perlu, sebagian tidak. Tapi apa sebenarnya teori Gestalt ini?

Gestalt berasal dari Bahasa Jerman yang berarti “keseluruhan pengelompokan”.
Pendekatan Gestalt ini banyak dipakai untuk design karena berhubungan erat dengan pengkomposisian. Misalnya logo the Wildlife Federation yang langsung orang tangkap sebagai panda atau beruang, padahal bentuk itu hanya terdiri dari bidang-bidang hitam dan putih. Dalam pendekatan Gestalt, persepsi berelasi langsung dengan pengalaman, ingatan, dan wawasan pemirsa atas benda-benda lain.

Continue reading

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Doa yang Tercerai

Di depan kendi gerabah yang diplester semen, Shinta Ratri, Ketua Pesantren Waria Al-Fatah membasuh sebagian tubuhnya sebagai wudhu. Air dari kendi itu ia timba dari sumur di sebelahnya. Kemudian di rumah utama ia mengenakan mukena dan menunaikan salat. Tak ada lagi salat berjamaah di rumah itu.

Rumah itu adalah rumah limasan kayu dengan bagian tengah ditopang empat saka yang juga terbuat dari kayu. Di ruang tengah di mana Shinta salat, pada tiap Minggu sore hingga malam saat pesantren masih aktif, diisi oleh jemaah waria. Selain salat berjamaah, mereka akan mengaji dan belajar membaca Quran di teras.

Continue reading

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Panduan Meliput Konflik Bagi Jurnalis Foto

Setiap tahun ada saja tindak kekerasan terhadap jurnalis di Tanah Air. Setelah serangan terhadap jurnalis Medan oleh personel TNI AU, bisa dikatakan kerja jurnalis semakin tidak aman. Dan korban umumnya adalah jurnalis yang bekerja dengan kamera, karena peranti ini memang mudah ditengarai. Sehingga lawan atau pihak yang merasa dirugikan oleh keberadaan media mudah menyasar jurnalis.

Secara global, the Committee to Protect Journalists (CPJ), organisasi internasional untuk kebebasan pers mencatat dalam kurun 2016 sebanyak 48 jurnalis tewas. Dan sejak 1992 mereka mencatat 1.228 jurnalis tewas, sebagian di daerah konflik dan sebagian di antaranya adalah jurnalis foto.

Continue reading

Posted in Jurnalistik | Tagged , , , , , | 3 Comments

Tentang Agan Harahap

Sebelumnya saya ingin meminta maaf bila celotehan saya tidak berkenan bagi Agan Harahap dan ribuan pengikutnya di Instagram, @taufanwijaya_ teramat kencur dibanding @aganharahap. Tulisan ini hanyalah opini saya tentang foto-foto hasil olah digital.

Malam kemarin saya datang ke sarasehan yang digelar oleh Kelas Pagi Yogyakarta, komunitas nirlaba yang bergiat dalam pendidikan fotografi di Jogja. Sarasehan itu satu di antaranya menghadirkan Agan Harahap untuk bercerita dan mempresentasikan karyanya.

Continue reading

Posted in omongan | Tagged , , | 5 Comments

Sejauh Mana Karya Foto Bisa Digunakan Pihak Lain?

Kita saat ini berada di dunia yang tanpa batas, di mana informasi bertebaran di mana-mana, dan apa yang terjadi di belahan dunia lain bisa disaksikan di belahan bumi yang berbeda. Jauh-jauh hari, pada 1960’an Marshall McLuhan telah meramalkan ini dan menyebutnya sebagai “global village.”

Fotografi juga bagian dari informasi yang berserakan ini. Kita bisa dengan begitu mudah mendapat foto yang dibagi melalui media sosial atau laman-laman dan berita siber, sekaligus menyebarkannya. Nah, di sini ada aspek hukum yang perlu kita perhatikan, kenapa? Agar kita tidak melanggar hak orang lain (atau bertentangan dengan hukum) dan tidak menjadi korban atas aksi orang lain.

Continue reading

Posted in omongan | Tagged , , , | 5 Comments

Visual Literasi?

Saya tidak ingat pastinya bagaimana obrolan itu bermula, yang teringat betul adalah fotografer ini mengatakan bahwa ia tak ingin tahu visual literasi. Alasannya adalah, “Jadi motret banyak pertimbangan. Malah nggak motret ntar.”

Demi mendengar itu saya termangu. Apa ini yang dipikirkan sebagian fotografer? Di kali lain, pernah ada orang yang mengirim pesan pendek, bertanya buku apa yang harus dibaca untuk belajar visual literasi. Ia ingin belajar visual literasi untuk memaknai foto. Apa guna visual literasi untuk memaknai foto?

Continue reading

Posted in Jurnalistik | Tagged , , | 10 Comments

Objektivitas Foto

Fotografi muncul untuk menggapai cita-cita obyektivitas, karena dipercaya mampu memaparkan kembali realitas visual secara presisi. Berbeda dengan lukisan yang bergantung pada tekanan dan sapuan kuas, foto dianggap merupakan jiplakan alam nyata ke dalam medium lembar dua dimensi. Dan kamera membantu fotografer memindahkan imaji tersebut.

Continue reading

Posted in Jurnalistik | Tagged , , , | 2 Comments